Playing Victim and Bullying

Sabtu, Desember 09, 2017

Sudah pernah mendengar istilah ini kan ?
Pelaku yang berkelit seolah dialah korbannya.
Saya sudah sering lihat drama seperti ini baik di dunia kotak maupun dunia nyata.
Tapi.
Seumur hidup baru kali ini saya ditarik dalam pusaran drama seperti ini.
Apa saya ikut campur masalah orang, sehingga ikut-ikutan kena masalah ?
Tidak.
Sama sekali saya tidak ada sangkut pautnya dengan si pelaku ataupun korban.
Tapi entah bagaimana malah kemudian saya yang jadi korban pelaku playing victim ini.
Ya, saya sama sekali tidak ada urusan kecuali satu hal :
Saya tidak bisa berpura-pura baik.

=====
Suatu hari, ada tragedi di sekolah Syaima.
Sebenarnya hal biasa, tapi salah satu emak ini tidak terima.
Singkat cerita, semua wali murid didatangi dan disms dengan isi omelan2 si emak.
Saya salah satunya.
Tapi saya menjawab omelannya.
Saya yang merasa tidak melakukan apa-apa, tentu saja santai dan berani menatap matanya.
Mungkin selama ini dia pikir saya yang terlihat diam, akan mudah saja menganggukkan kepala pada nya.
No.
Singkat cerita di hari berikutnya.
Dia dengan sengaja menginjak kaki Syaima yang sedang duduk manis sampai Syaima menangis kesakitan dan ketakutan.
Kalo tidak saya tarik kaki si emak itu, mungkin dia akan terus menginjak.
Yaa Allaah.
Saya sakit hati.
Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak melototin orang itu.
Saya memang tidak banyak ngoceh, tapi emosi saya tercurah lewat tatapan mata saya yang mungkin bisa langsung nancep ke jantungnya.
Apa-apaan ini !
Dia boleh saja ngomelin saya, ngatain saya begini begitu, lalu saya tetap diam tidak terusik.
Tapi dia sudah menyakiti fisik Syaima, anak kecil yang tidak punya urusan apa-apa dengannya.
You do a fucking big mistake.
Ya, saya satu-satunya orang yang berdiri 'melawannya' ketika semua orang berpura-pura baik padanya.
Who do you think you are.
Dia mengatakan kepada Bunda KepSek bahwa ada yang tidak suka padanya dan bla bla bla.
Dia ngomongin saya di belakang.
Menebar fitnah tentang saya dan Syaima kepada wali murid lain.
Dia pikir dia wow sekali.
Dia tidak tau mereka menyampaikan itu semua ke saya.
Dia tidak tau kalau mereka tidak ada yang percaya pada kata-katanya.
Walaupun keadaan bisa normal dan tenang kembali jika saya mau bersikap manis pada orang itu, but I won't.
Saya bukan orang yang akan membungkukkan badan pada orang yang sok powerful.
Yang mengganggu bukan hanya emak x itu saja, tapi juga anaknya.
Jauh sebelum tragedi ini, saya sudah melihat si anak x ini membully Syaima.
Hampir setiap hari.
Yang dipelototinlah, yang dijauhin, yang ngomong ke temennya 'jangan main sama syaima', dsb.
Bersyukurnya, Syaima belum paham apa yang terjadi.
Biasanya dia hanya akan memandang si anak x itu dengan tatapan bertanya-tanya.
Mungkin dia berpikir anak ini kenapa ya..
Saya susah payah menjaga jarak agar Syaima selalu jauh-jauh dari anak x itu.
Sejak itu suasana sekolah tak lagi menyenangkan, karena saya khawatir paparan negatif yang terus-menerus akan merusak kebaikan hati nya yang polos.
Entahlah, saya masih terbawa emosi. Biasanya akan reda setelah beberapa hari kemudian.
Tapi, meskipun emosi saya sudah reda dan amarah di hati sudah lenyap, saya hanya bisa bersikap biasa saja, tidak bisa bersikap seolah nothing has happened.
Saya sudah menyampaikan pada Bunda Kepsek bahwa saya memutuskan akan mantap mengambil jalur homeschooling.

Wanna give me an advice ?

You Might Also Like

0 komentar