Balita, Adab Makan dan Tempat Umum

Selasa, September 25, 2018


Saya lagi makan di sebuah restoran dengan si bungsu. Baru saja duduk, sudah kedengeran 2 suara dari 2 meja yang berbeda, bunyi program anak2 di hp di hadapan anak2 kecil sebaya bungsu saya yang baru 2.5. Sambil makanan tersuap ke mulut2 kecil mereka. 

Belajar dari reaksi orang terhadap artikel saya sebelumnya yang tidak setuju ketika saya minta orang untuk mempertimbangkan orang-orang di sekitar mereka, maka tidak mungkin kan saya minta kecilkan suara hp nya?

So.. saya yang pindah. Menghindari penghafalan lagu yg tidak diharapkan pada anak saya dan perilaku meniru dari melihat anak2 lain yang sebaya, saya memutuskan untuk pindah ke ujung ruangan yang lain. Sejauh-jauhnya dari sumber suara.


Lima menit di meja baru, sambil ngobrol sama si kecil untuk melengahkannya dari waktu lama menunggu, terdengar lagi suara lain yang lebih kenceng dari meja lain, program2 serupa, dari pelanggan yang datang baru saja.

Dan ini bukan baru pertama kali terjadi, sudah berpuluh2 kali. Ketika saya makan sendiri, sama anak2, bahkan ketika makan di restoran sama Bu Elly (Risman).


Betul.. Betul..

Kalo mau hening, makan di rumah sendiri saja kan?

Namanya jg tempat umum. Suka2 orang dong? Ya kaaan? 


Iya, setuju, saya terima. Dan saya tidak pindah meja lagi kok. Cuma saya sedang mengagumi betapa berbeda kebiasaan di kluarga saya dengan mayoritas orang pada umumnya.

Di rumah Bu Elly, no hp, no buku, no mainan, ga ada yg boleh ada di atas meja makan, selain tentunya makanan dan alat perangkatnya.

Tidak untuk orang dewasa, apalagi anak2. Tidak perduli apakah jabatan anda persis di bawah menteri, pembicara di seminar sampai keluar negeri, mahasiswa PTN terbaik bangsa, murid SD belakang rumah or hanya seorang batita, semua sama. Peraturan berlaku untuk smua. Tidak ada pengecualian.

Di meja makan, MAKAN. Ngobrol boleh.. Mostly makan. Aja. Tok. Mau baca, main, liat hp, nanti setelah makan usai. Ga perduli hp nya high end yg harga nya double digit atau yg kalo di lempar ke kucing, kucing nya benjol, no gadgets di meja makan. Titik.


Pengasuhan, di-turun-temurunkan. Begitu saya dibesarkan, begitu pula saya membesarkan anak2 saya. Waktunya makan, di meja makan. Makan. Tanpa disambi2. Di rumah, di restoran, di Jakarta, Amerika, Neptunus, sama saja. Peraturan tersebut berlaku dimanapun, kapanpun, untuk semua.


Jadi saya suka terpana kalo ketemu mereka yang memberlakukan hal yang berbeda. Mengizinkan anaknya yg balita membawa perangkat elektronik ke meja makan saja sudah aneh bagi saya. Tapi mengeraskan suara hp di tempat umum, secara terus menerus, menurut saya itu sudah mepet ga sopan jadinya.

Anak, anak orang, suka2 mereka dong dikasih gadget? Betulll.. Silahkan.

Tapi kalo sampe bersuara, sebagaimana saya harus memaklumi karena itu tempat umum, seharusnya orang juga harus liat2 tempat lah ya. Tempat umum bukan berarti kita jd boleh bertindak suka2 hati kita juga dong.

Juga harus mempertimbangkan orang lain. Kalo suara youtube di hp di tangan anaknya sampai bisa terdengar orang lain, ya bisa juga orang terganggu. Masa iya orang boleh ganggu saya dan saya ga boleh merasa terganggu?


Saya ga pernah ke jepang. Tapi banyak saya dengar betapa mereka sangat menghargai orang sekitar. Pernah saya sedang ingin menelepon salah satu sahabat saya di sana, dia menunda menerima telpon saya karena sedang berada dalam kereta api. Di sana, menerima telpon di transportasi umum saja tidak boleh, khawatir ada yg sedang tertidur, membaca dan terganggu saja.

Yah itu kan di Jepang? Ya kenapa kita ga belajar dari mereka kalo memang itu baik?


Sy, again, tdk mau mendikte bgmn orang mengasuh anaknya, tp saling menghormati dan menghargai lah. Silahkan ksh anak anda gadget jika memang anda mau biasakan anak membawa hp ke meja makan. Tp kl di tempat umum, mgkn baiknya tdk di hidupkan suara nya. Atau ckp smp anak anda sj yg mendengar. Atau, lbh baik lg, pake headset or earphone. Tidak mentang2 ada org yg suka hiphop Jd boleh denger lagu rap dg kenceng sesuka hati mereka kan mentang2 ruang publik. 


Ga stuju lg? Gapapa. Ini cm sekedar saran saja. Dimana2, yg namanya saran, diterima syukur, tidak pun tak apa. Saya hanya ingin yg terbaik untuk anak anda. Berharap mereka akan tumbuh menjadi orang yg empati dengan lingkungan sekitar.

Mempertimbangkan apakah perilaku mereka mengganggu sekelilingnya atau tidak. Bahkan kalo sama teman2 di grup WA parenting saya, saya akan menegur mereka lebih keras agar anak2 mereka tidak terpapar sama sekali radiasi dr layar bercahaya sebelum usia 3, kareba bisa bikin adiksi sehingga ketika layar tersebut dihentikan, anak akan memberontak ga karuan.

Di atas usia 3, saya lebih senang jika mereka bisa makan sendiri, dilatih kalo belum bisa, diajari adab makan dan fokus makan saja, sambil ngobrol sesekali dengan orang skitar di meja makan yg sama. Karena kalo sambil main hp, maka makanan main masuk saj ke mulut, di kunyah sambilan dan di telan seadanya. Plus, kl prosesi makan selalu ditemani layar, kapan sempat masukin ilmu adab makan? Belum adab2 sosial lainnya.

Lagipula, fokus ke makanan membuat kita lebih bersyukur menikmati kelezatan makanan tersebut. Dengan bersyukur, saya berharap ditambah2kan rezeki kelezatan makannya sepanjang hidupnya. Tapi itu tujuan jangka panjanglah. Sementara ini saja dulu. Semoga kita (dan anak2 kita) bisa (minimal belajar untuk) saling menghargai sesama, setiap waktu.


Oleh Sarra Risman


*jika dirasa manfaat, tdk perlu izin utk membagikan artikel ini.

You Might Also Like

0 komentar